Münchausen Syndrome

Münchausen Syndrome adalah suatu gangguan psikiatrik yang digolongkan ke dalam factitious disorder (gangguan tiruan/buatan) di mana penderitanya sebenarnya tidak sakit namun bertindak seolah-olah sakit bahkan hingga mencederai diri sendiri untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Istilah lain buat sindroma ini antara lain : malingering, hospital addiction syndrome, hospital hopper syndrome. Münchausen Syndrome dinamai seperti ini diambil dari nama seorang militant jerman, Baron Von Münchausen (Karl Friedrich Hieronymus Freiherr von Münchhausen, 17201797) yang menceritakan kisah hidup dan pengalamannya yang fantastis dan tidak masuk akal.

Münchausen Syndrome dapat dibedakan dengan hypochondriasis (hypochondriac disorder) yang digolongkan ke dalam somatoform disorder. Pada hypochondriasis gejala dari suatu penyakit itu memang ada tapi terlalu dilebih-lebihkan (mis. seorang penderita yang sakit perut karena gastritis percaya bahwa dirinya mengidap kanker usus atau seorang penderita yang sedang sakit kepala meyakini bahwa dirinya mengidap kanker otak stadium akhir, dll)

Etiologi. Penyebab munculnya Münchausen Syndrome hingga saat ini belum diketahui. Beberapa ahli berpendapat bahwa hal ini terjadi sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap dorongan seksual dan agresivitas. Beberapa ahli lainnya memercayai bahwa ini adalah sebagai bentuk hukuman buat diri sendiri (self punishment). Beberapa percaya saat kecil penderita mengalami penyimpangan (abuse) atau penelantaran (neglect). Untuk menentukan penyebab utama sindroma ini sangat sulit karena penderita tidak terbuka, sehingga penelitian terhadap sindroma ini hampir tidak mungkin dilakukan.

Apa saja gejala Münchausen Syndrome?

Penderita sindroma ini sering menciptakan atau melebih-lebihkan gejala dalam banyak cara. Mereka dapat berbohong mengenai gejala-gejala yang dirasakan, melukai diri sendiri untuk memunculkan suatu gejala, bahkan hingga mengubah hasil tes diagnostik (mis. mengkontaminasi sampel urin dll). Berikut adalah tanda dan gejala yang dapat ditemukan:

  • Riwayat medis yang dramatis namun inkonsisten
  • Memiliki pengetahuan berlebihan tentang rumah sakit atau istilah kedokteran, seperti deskripsi textbook terhadap suatu penyakit
  • Gejala yang tidak jelas dan tidak dapat dikontrol dan menjadi lebih berat atau dapat berubah saat pengobatan diberikan
  • Gejala yang muncul terlalu sempurna atau tidak ada tanda-tanda yang menyertai suatu gejala tersebut (mis. tidak ada tanda dehidrasi tapi mengeluhkan diare dan muntah-muntah)
  • Riwayat mencari pengobatan di banyak dokter, rumah sakit, maupun alternatif
  • Keinginan atau hasrat yang berlebih untuk menjalani pemeriksaan, test, dan prosedur medis
  • Terdapat luka parut (scar) yang multiple
  • Memiliki masalah terhadap identitas dan harga diri (self esteem)

Penatalaksanaan. Pengobatan untuk penderita Münchausen Syndrome sulit karena penderita tidak akan mengakui sindroma yang ia miliki. Goal dari penatalaksanaannya adalah mengurangi gejala-gejala yang dikeluhkan dan menyembuhkan luka-luka yang dibuat oleh penderita untuk menginduksi suatu gejala. Penatalaksanaan harus bijaksana dengan mengurangi pemeriksaan penunjang yang berlebihan dan invasive, namun tidak mengabaikan kondisi medis serius yang terjadi pada penderita.

Obat yang dapat diberikan adalah golongan SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitor) — seperti sertraline, fluoxetine dsj — yang membantu menyembuhkan gangguan depresi dan anxietas pada penderita. Dan jika terdapat gangguan kepribadian borderline pada penderita, dapat diberikan antipsikotika dosis rendah.

Psikoterapi oleh psikolog maupun psikiater memiliki peranan yang sangat penting untuk membantu penderita menyadari bahwa ia tidak sakit dan mengubah pola pikir penderita. Jenis psikoterapi yang dimaksud adalah CBT (Cognitive Behavioral Therapy).

Dengan demikian, kita semua harus aware dengan kejadian seperti ini karena banyak kasus serupa yang terjadi di masyarakat. Orang awam sangat sulit membedakan apakah penderita benar-benar sakit atau tidak, bahkan dokter pun terkadang harus memikirkan diagnosis banding terlebih dahulu pada kasus-kasus tertentu dan menjalankan berbagai macam tes. Selama saya tugas di bagian Psikiatri dan Neurologi, banyak menemui kasus seperti ini. Pada awalnya sulit dibedakan, lama kelamaan mulai terlihat bedanya.. (pengalaman pribadi ^^)

Sumber:

http://www.emedicinehealth.com/munchausen_syndrome/article_em.htm

http://my.clevelandclinic.org/disorders/factitious_disorders/hic_munchausen_syndrome.aspx

http://en.wikipedia.org/wiki/M%C3%BCnchausen_syndrome

http://en.wikipedia.org/wiki/Hypochondriasis

Maslim, Rusdi Sp.KJ. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa : PPDGJ III. Jakarta: PT Nuh Jaya

Maslim, Rusdi Sp.KJ. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (ed. 3). Jakarta: PT Nuh Jaya

2 comments on “Münchausen Syndrome

  1. Cahya says:

    Ah ya…, ini dia yang merepotkan itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s