Travel Medicine

Doyan Travelling?? Pastinya tau donk ya, dengan buku Naked Traveler, karangannya mba Trinity yang terkenal itu. (oh, dan bukan Nekad Traveler, plesetannya yang merupakan acara reality show di salah satu stasiun TV swasta Indonesia). Anyway, saya ga akan membahas mengenai itu🙂 Jadi, yang sudah baca bukunya sampai jilid ke 4, ada pembahasan kalau si mba Trinity ini sakit dan sakitnya didapat karena jalan-jalan atau melancong. That’s our topic.

Asumsi banyak orang bahwa saat kita bepergian ke suatu tempat (travelling), kita akan senang-senang, dapat pengalaman baru, dan banyak kejadian yang bakalan have-fun-go-mad. Dan nyatanya itu memang benar, hanya saja tidak semua pengalaman baru yang kita dapat, menyenangkan. Bisa saja yang kita dapatkan malah, penyakit. Dalam dunia kedokteran ada cabang ilmu yang mempelajari penyakit yang bisa didapat akibat dari bepergian ke suatu tempat yakni Travel Medicine.

Travel medicine ini sebenarnya fokusnya lebih ke tindakan pencegahan (preventif) dan manajemen kesehatan secara menyeluruh dibanding ke tindakan pengobatan (kuratif). Cabang ilmu ini sampai ada karena efek dari globalisasi dan travelling itu sendiri. Ada wabah yang sifatnya endemik, epidemik maupun pandemik. Ada penyakit yang hanya bisa didapat jika bepergian ke suatu area tertentu. Karena keunikan ini, muncullah cabang ilmu tersebut. 

Sebagian besar mind-set dari pelancong (travellers) atau mungkin yang baru merencanakan bepergian adalah nikmati jalan-jalan dan cari pengalaman baru sebanyak mungkin. Dan terkadang ada beberapa hal penting yang diabaikan termasuk kesehatan. Saat kita dalam keadaan lelah, apalagi sampai jet lag, maka imunitas tubuh kita menurun. Hormon dan enzim yang biasanya keluar sesuai jadwalnya menjadi tidak sinkron dan harmonis lagi. Datanglah agen penyakit, et voilà, sakit lah kita. Mengatasi hal tersebut, pada dasarnya travel medicine dapat dibagi lagi menjadi 4 topik: pencegahan (i.e. vaksinasi atau medical advice), asistensi (perawatan medis hingga pemulangan ke daerah asal), pengobatan dalam kondisi ekstrim (i.e. ketinggian, ekspedisi dll), dan akses terhadap pelayanan kesehatan (termasuk asuransi perjalanan).

Pertanyaannya adalah kenapa penyakit menular tertentu hanya ada di area geografis tertentu? atau kenapa impact dari penyakit endemis yang sama bisa bervariasi dari satu populasi ke populasi lainnya? atau apa yang menyebabkan kawasan atau populasi tertentu bisa resisten terhadap penyebaran  infeksi tertentu? Dan ternyata jawabannya tidak didominasi dari segi medis saja, melainkan juga IPOLEKSOSBUDHANKAMGEOTEK dan bla bla bla lainnya. Dan yang sedikit menggelitik, ga cuma manusia yang bisa travelling, tapi penyakit juga bisa travelling :p

Contoh, HIV/AIDS tingkat transmisinya tinggi pada area tertentu (i.e. Africa) imbas dari pengaruh tingkat kemiskinan yang tinggi (ekonomi), kebiasaan free sex / incest (budaya), dan lainnya. Avian Influenza menjadi endemis pada regio tertentu karena migrasi dari burung (geografis), manusianya travelling (sosial), ketersediaan vaksin (kesehatan), pemeriksaan/medical scanning pada pintu masuk suatu negara (Hankam).

Namun bolehlah kita orang Indonesia sedikit berbangga. Karena daya tahan tubuh kita termasuk yang tinggi kemampuan imunitasnya. Jadi resiko tertular penyakit di suatu area tertentu di negara Luar Indonesia lebih minim. Pengalaman saya waktu masih co-Ass dulu, ada co-Ass yang studi banding dari Germany, sebut saja namanya bunga #lol ups, Benjamin Säenger sebut saja Benz. Si Benz ini minta dikenalin sama makanan-makanan di Indonesia. Tester pertama jatuhlah pada masakan Indo bernama rawon. (FYI, orang jerman ga bisa nyebut huruf “w”, malah jadinya seperti saat orang indo mengucap huruf “v”, terdengar seperti ravon dengan suara sengau, kalau yang tingkat pendengarannya agak terganggu malah terdengar seperti “rempong” . what??? #lol). Jadi komentarnya tentang rawon ini enak, tapi pedas. Dan malamnya, seperti yang sudah saya ramalkan, dia mencreeet. Seolah ga kapok, besoknya masih minta dikenalin makanan Indo lagi, saya ajak makan gado-gado dan rujak kuah pindang. Malamnya? Mencret, lagi. Tapi ternyata setelah lewat 1 minggu, imunitasnya dia membaik. Diajakin makan makanan padang, aman aja. Juga makanan lainnya. Hukum ini juga berlaku buat teman bule lainnya yang membiasakan makan makanan Indo, sementara yang tetap makan seperti budaya di daerah asalnya ya bakalan tetap kena traveller’s diarrhea.

Oknum yang makan rawon terus diare :p

2009: Oknum yang makan rawon terus diare :p

 

Sedikit rahasia, bahwa dokter muda (co-Ass) di Indonesia bisa jadi jauh lebih jago dalam menangani kasus Dengue Hemorrhagic Fever ketimbang General Practitioner (dokter umum) di Eropa. Pengalaman saya lainnya, waktu jaga di klinik area pariwisata di Bali, ada pasien bule yang positif  DHF setelah saya lakukan pemeriksaan fisik dan penunjang. Saya terapi dengan prosedur terapi DHF. Setelah kondisi membaik, si bule ingin balik ke Belgia tempat asalnya. Karena stabil dan sudah perbaikan, akhirnya saya buatkan rekomendasi dan ijin kelayakan terbang. Sampai di Belgia, dokternya telpon SLI dari sana ke klinik minta dipandu untuk prosedur terapi selanjutnya🙂 Celakanya bahasa Inggrisnya kacau, untungnya Belgia adalah negara dengan 4 bahasa, so i prefer french to english. Barulah dia paham, hafiuuuuh +_+. Kira-kira tau kenapa saya bocorin rahasia di atas? Karena di Eropa, syukur-syukur kalau dokter umumnya waktu co-Ass pernah 1x aja dapat kasus DHF (DBD). They just know the theory, but practically they seldom meet such cases. Jadi kalau ada yang kena demam berdarah dengue atau malaria (jangan sampai), saya sih anjurkan berobat saja ke dokter di Indonesia, atau yang masih kawasan Asia Tenggara lah.

Indonesia kaya akan berbagai macam kasus penyakit. Hampir semua penyakit infeksi tropis maupun noninfeksi ada di Indonesia. Mulai dari penyakit kulit macam jamuran, penyakit pada saluran cerna macam cacingan, sampai penyakit krisis jati diri alias gila. Tengok saja, dokter atau co-Ass dari luar negeri sampai studi banding ke Indonesia hanya untuk mencari kasus gondok-an, rabies, malaria, demam berdarah dengue, typhoid, filariasis dll. Sayangnya setelah mereka melakukan studi banding, penelitian dan semacamnya, mereka membuat textbook mengenai kasus-kasus tersebut dan kadang membuat obat sekaligus mematenkannya. Mereka juga membangun sarana dan prasarana kesehatan yang lebih memadai. Dan pemeriksaan penunjang yang lebih up-to-date & valid. Contoh: di banyak layanan kesehatan di Indonesia bahkan hingga di rumah sakit, untuk mendiagnosis typhoid masih menggunakan pemeriksaan widal. Di luar negeri widal sudah ditinggalkan karena tingkat validitasnya bias. Dan kenapa pemerintah tidak ada inisiatif? Analoginya, kalau tempe saja mau di-claim negara lain sebagai hak paten (tempe tuh, catat) bagaimana bisa kita memajukan dunia kedokteran di Indonesia?

Back to travel medicine, jika kita memasuki suatu area tertentu seperti yang endemis malaria, maka minum obatnya — hanya untuk pencegahan — adalah sebelum berangkat, selama di tempat tujuan dan setelah pulang. Untuk jenis doxyccyline, chloroquine atau mefloquine diminum bahkan sampai 4 minggu setelah kepulangan. Sementara untuk jenis proguanil dan primaquine diminum 1 minggu setelah kepulangan. Lain lagi ceritanya kalau kita terjangkit malaria🙂 Jika kita mau berangkat haji, maka ada paket vaksinasi yang dianjurkan seperti meningitis dan influenza. Sementara kalau kita mau ke daerah Afrika biasanya ada medical advice  dan juga vaksinasi terhadap yellow fever dan trypanosomiasis (penyakit yang ditularkan lalat tse tse dan menyebabkan kita tidur panjang)

800px-Glossina_palpalis_morsitans

Jadi? Masih ingin travelling ke area endemis? Atau kerja di lokasi tertentu yang syarat dengan penyakit? Kalau ya atau terpaksa iya, maka persiapkanlah medication kit travel medicine. Yang termasuk medication kit di sini antara lain profilaksis malaria, obat-obatan first aid seperti anti muntah/diare, penghilang nyeri (analgetik), penurun panas (antipiretik) dan semacamnya, dan juga kondom. Untuk antibiotik harus dikonsultasikan dengan dokter setempat karena resistensi kuman dan sensitivitas antibiotik berbeda-beda di setiap area. Saya pribadi kalau bepergian minimal selalu ada analgetik.

Travelling? Siapa takut… Yang terpenting, dijaga kesehatannya…

Source:

1. Wilson, Mary E. 2004. Geography of Infectious Disease in Cohen’s Infectious Disease 2nd ed. Section 6: Chapter 142. Mosby: UK. pdb version.

2. http://en.wikipedia.org/wiki/Travel_medicine

3. http://en.wikipedia.org/wiki/File:Glossina_palpalis_morsitans.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s