Waspadai Bahaya “Electrical Injury & Lightning Strike”

imagesBagaimana dampaknya jika kita tersengat listrik atau tersambar petir? Apa efeknya jika kita bekerja dalam lingkungan yang berhubungan dengan listrik? Apa efek jangka panjangnya? Manifestasinya pada tubuh seperti apa? Beberapa pertanyaan berikut dilontarkan oleh Maintenance Superintendent dan HR officer saat membahas calon karyawan yang akan bekerja di lingkup area kelistrikan namun dari hasil MCUnya memiliki masalah pada rekam jantung (EKG). 4 thumbs up, pertanyaan yang menarik, berikut sedikit saya bahas seputar topik tersebut dari sisi medis.

Cedera/luka akibat sengatan listrik memiliki banyak manifestasi dengan berbagai macam gejala, mulai dari ringan hingga berat, sesaat hingga menetap/jangka panjang, sepele hingga serius dsb. Terkadang gejala tersebut yang muncul tidak sesuai dengan tanda klinis yang ada pada tubuh. Bahkan dari sisi dunia medis pun, jika tidak dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang komprehensif maka bisa saja luput tidak teramati. Kesannya jadi seperti melebih-lebihkan suatu keadaan, seperti di blog saya dengan judul Munchausen Syndrome. Padahal sengatan listrik dapat menimbulkan gangguan neurologis maupun neuropsikologis. Berikut pula akan dibahas Diffuse Electrical Injury (DEI).

Semenjak penemuan listrik pada akhir abad ke 19, orang-orang sudah menyadari akan bahaya dari kelistrikan tersebut, namun demikian orang-orang juga tahu bahwa penggunaan energi listrik secara tepat memiliki keuntungan yang jauh melebihi resikonya.Penelitian dilakukan oleh Charles Dalziel pada pertengahan abad ke 20 menggambarkan respon tubuh manusia terhadap listrik seperti yang tertera pada tabel berikut.

Respon Tubuh Terhadap Kontak Listrik

Respon Kuat Arus Listrik
Sensasi Kesemutan 1 mA
Nyeri tanpa hilangnya kontrol otot 9 mA
Tidak bisa melepas kontak (terjebak) 16 mA (laki-laki), 10 mA (perempuan)
Nyeri disertai kontraksi otot / sesak nafas 23 mA
Gangguan Irama Jantung tipe VF 50 mA
Kontraksi otot myocardial jantung > 1 A ( > 1000 mA)
Luka bakar / cedera thermal > 1 A ( > 1000 mA)

Hanya saja penelitian tersebut pada akhirnya diketahui memiliki kelemahan sebagai berikut:

  1. Gagal menjabarkan variabilitas pada manusia. Karena setiap individu manusia berbeda, ada saja kemungkinan apa yang mungkin tidak menyebabkan kematian pada satu orang bisa saja menyebabkan kematian pada orang lainnya atau mungkin terjadi kecacatan pada orang yang lain lagi
  2. Informasi pada tabel kehilangan 2 komponen penting, yakni aliran arus listrik dan durasi kontak. Di mana kedua komponen tersebut memiliki impact yang sangat besar terhadap cedera/luka yang terjadi
  3. Data pada tabel tidak bisa digunakan sebagai perbandingan. Karena substansi di sini yang dibandingkan adalah sensasi, sama saja seolah kita membandingkan apel dan jeruk. Lain cerita kalau kita membandingkan buah apel dengan varian yang berbeda atau buah jeruk dengan varian yang berbeda.

electrocutionTanda atau gejala yang muncul pada kondisi tersengat listrik atau tersambar petir dapat kita bagi berdasarkan dari jenis lukanya juga dari jenis circuit listrik yang kontak ke tubuh. Kita tahu bahwa ada 2 jenis circuit, yakni Direct Current (DC) & Alternating Current (AC). DC dengan voltase yang tinggi dapat menyebabkan kekakuan pada otot yang terlokalisir (muscle spasm). Sementara AC disebutkan memiliki bahaya 3x lipat lebih besar karena arusnya bolak balik di dalam tubuh, menyebabkan kekakuan secara menyeluruh dan kontinyu.Dari jenis cedera/lukanya dibagi menjadi primer dan sekunder. Cedera primer yang terjadi adalah kerusakan jaringan hingga kematian jaringan. Cedera sekunder akibat dari proses penolakan terhadap sumber arus listrik.

Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, energi hanya dapat berpindah dari wujud satu ke wujud lainnya. Begitu yang kita dapatkan dalam pelajaran fisika. Cedera primer yang terjadi adalah efek dari perubahan energi listrik menjadi energi panas (thermal). Di mana panas tersebut akan membakar atau merusak sel-sel tubuh, dapat pula terjadi kematian jaringan akibat penggumpalan istilah medisnya necrosis coagulation. Teori lain yang dikemukan ilmuwan adalah electroporation, yang penjelasan singkatnya arus listrik yang tinggi akan membuat lubang pada sel ibarat tusukan jarum dan menyebabkan cedera. (dan pada akhirnya teori ini terbantahkan karena ada beberapa faktor yang membuat mustahil terjadi dalam tubuh manusia). Cedera sekunder biasanya terjadi akibat reaksi penolakan tubuh. Saat terpapar dengan arus listrik tinggi jenis DC, biasanya orang akan terkejut dan terlempar. Luka yang didapatkan dari proses reaksi ini yang disebut cedera sekunder. Biasanya yang terjadi semacam luka robek, memar, atau hingga patah tulang.

Adapun beberapa mitos dan misteri seputar electric shock sudah ada penjelasannya, sbb:

1. Bahwa arusnya bukan tegangannya yang menyebabkan cedera. Secara absolut memang benar tapi tidak sesederhana teorinya. Berdasarkan hukum Ohm didapatkan rumus bahwa –> Kuat Arus = Tegangan / Hambatan. (I = V/R). Dalam hal ini tegangan (voltage) adalah tegangan rata-rata dari tegangan masuk dan keluar pada permukaan tubuh. Sementara hambatan (resistance) adalah area masuk arus listrik hingga keluarnya, di mana barriernya adalah permukaan kulit. Saat kulit basah maka hambatan akan menurun. Maka dibutuhkan tegangan yang lebih tinggi untuk mengalirkan arus yang sama pada kulit yang kering secara logika, Yang artinya semakin tinggi voltase dan/atau semakin rendah resistensi, maka kuat arus (current) semakin tinggi. Faktanya penelitian terbaru menyatakan bahwa cedera yang kompleks pada sengatan listrik tidak ada hubungannya dengan tegangan maupun kuat arus.

2. No burns, no injury. Mitos lain yang beredar bahwa jika tidak ada luka bakar, maka tidak pula ada cedera. Kenapa demikian? Karena hambatan pada kulit sangat besar, biasanya dalam dunia kedokteran selalu dicari apakah ada wound entry & wound exit. Sehingga dibutuhkan energi yang lebih besar untuk menembus kulit. Saat energi berkumpul dan terfokus, terjadilah luka bakar. (masih ingat ga waktu SD pernah percobaan membakar daun pakai kaca pembesar/loop cuma dengan modal sinar matahari?) Itu tadi di permukaan kulit. Hambatannya besar. Sementara bagian dalam tubuh kita komposisinya lebih banyak cairan dan sifatnya konduktor. Jadi cedera bisa terjadi tanpa ada luka bakar, wound entry & wound exit tersebut.

3. Cedera akibat sengatan listrik terjadi akibat energi yang masuk ke dalam tubuh selama kontak dengan arus listrik. Mendekati tapi tidak sepenuhnya benar. Masih ingat rumus berikut –> Energi = daya x waktu (W = P x t) sementara daya = tegangan x kuat arus (P = V x I). Analoginya sebagai berikut: Luka bakar/ cedera thermal yang terjadi akibat energi listrik yang berubah menjadi energi panas. Tentunya seperti poin nomor 2 di atas, supaya bisa terjadi luka bakar energinya harus besar. Semakin besar tegangan dan kuat arus yang masuk maka dayanya semakin besar, ditambah dengan waktu paparan yang semakin lama maka energinya semakin besar. Semakin besar energi listrik yang masuk, sebesar itu pula akan menjadi energi panas. Semakin panas, semakin banyak cederanya. Faktanya tidak demikian, pemanasan bukan satu-satunya mekanisme cedera atau perusakan pada jaringan.

electrocution24. Aliran arus yang masuk dan keluar permukaan tubuh menentukan lokasi cedera.Secara teori benar dan masuk akal. Dalam hal ini secara fisika. Bayangkan saja garis lurus antara wound entry & wound exit pasti area lukanya dalam garis lurus imajiner tersebut. Tapi tubuh manusia merupakan komponen bi0-kimia-fisika. Dan tubuh manusia lengkap terdiri dari struktur padat, cair dan gas. Di mana bisa terjadi hantaran energi melalui konduksi, konveksi dan radiasi. Dalam hal ini sekaligus terbantahkan melalui teori “Structureless Gel”  bahwa hukum Ohm tidak berlaku pada komponen tubuh manusia.

5. Kalau aliran arus dan energi tidak menjelaskan cedera artinya gejala yang dialami korban sengatan listrik hanya mengada-ada. Kalau begitu kenapa bisa banyak gejala yang serupa di seluruh dunia bahkan pada orang-orang yang tidak pernah komunikasi langsung dan tidak memahami bahasa yang sama semenjak awal listrik ditemukan?

6. Electroporation. Seperti kita bahas di atas. Tegangan yang besar akan semakin fokus jika terpusat di satu titik. Logikanya masuk akal jika seseorang iseng menggigit kabel listrik, maka wound entry dan wound exit-nya semakin dekat dan terjadilah proses electroporation. Tapi bagaimana kalau listriknya mengalir dari tangan kanan ke tangan kiri? artinya lebar permukaan dan jarak semakin tinggi yang membuat tegangan terbagi. Dengan demikian teori ini hanya berlaku jika jarak wound entry & wound exit sangat lah dekat.

30_ways_to_die_of_electrocution_28Sedikit mengenai Diffuse Electric Injury (DEI), sering juga disebut electric shock syndrome, yakni respon syok yang terjadi pada korban sengatan listrik atau tersambar petir di mana gejala dan tanda yang muncul tidak sesuai dengan parameter yang ada seperti arus listrik, tegangan, dan durasi paparan juga kerusakan jaringan tidak sesuai dengan aliran masuk dan keluar arus secara teoretis. Any opinions or ideas?🙂

Selanjutnya akan saya bahas mengenai serangan jantung dan gangguan irama jantung yang dapat terjadi akibat kondisi sengatan listrik pada postingan berikut.

Source:

http://www.uic.edu/labs/lightninginjury/treatment.html

http://www.electricalinjury.com/EIinfo.htm

http://www.patient.co.uk/doctor/Electrical-Injuries-and-Lightning-Strikes.htm

http://www.academia.edu/1770791/Summary_of_Organic_Matter_Classifications

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2718596/

http://www.sciencedaily.com/releases/2008/05/080515113311.htm

http://www.newscientist.com/article/dn1045-electric-shocks-can-cause-motor-neurone-disease.html

http://acidcow.com/pics/3989-30_ways_to_die_of_electrocution_30_pics.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s