Dukung Aksi STOP Kriminalisasi Dokter, Speak Your Faith!!!

7702_544831858948325_206736095_nSebelum sedikit saya sharing mengenai opini yang ada di benak, juga pengalaman saya waktu tugas di daerah terpencil (sekedar berbagi, silakan dicek sendiri kebenarannya🙂 ), ada baiknya ditengok dulu beberapa link berikut biar jelas apa sih yang sedang diributkan atau beredar di dunia maya. Langsung ke TKP:

  1. Ketika Wartawan Gagal Paham Menyebar Berita, Inilah Jadinya
  2. Stop Kriminalisasi Dokter
  3. Stop Kriminalisasi Dokter, Part 2
  4. Nasib Dokter Kini
  5. Emang Enak Jadi Dokter?
  6. Respond to -Emang Enak Jadi Dokter?-
  7. Dokter Oh Dokter

Sebelum saya sharing lebih lanjut, perlu dicatat bahwa “Dokter” itu hanyalah sebuah “Profesi”. Sementara pelaku profesi tersebut bisa kita sebut “Manusia”. Pertanyaannya, ada ga dokter yang bekerja mengejar materi? Ada. Ada ga dokter yang bekerja mengejar pangkat dan jabatan? Ada juga. Ada ga dokter yang dengan sengaja/ tanpa sengaja punya niat mencelakakan hingga membunuh pasiennya? Saya yakin semua sepakat jawabannya tidak ada (walaupun mungkin ada yang tidak setuju). Memang ada yang mencari materi, pangkat hingga jabatan dengan berlebihan sampai melupakan nilai luhur, marilah kita sebut itu “Oknum”. Dan demi alasan apapun baik luhur maupun yang tidak, saya yakin tidak ada dokter yang berniat mencelakakan pasiennya. (kecuali gila / psikopat)

Apakah kambing itu semuanya berbulu hitam?

Kebanyakan berita yang beredar di masyarakat mengenai malapraktik itu sebenarnya masih berada dalam batas sengketa medis. Bisa dilihat contoh kasus pada link-link di atas tidak perlu saya jabarkan lagi. Yang jadi masalah adalah komunikasi. Fair saja, bisa jadi informasi dari dokter kurang jelas, atau pasien tidak memahami isi informasi (bisa jadi juga pura-pura paham), atau tidak ada waktu yang cukup baik pada dokter maupun pasien sehingga pesan yang harusnya tersampaikan dengan baik menjadi tidak sempurna. Analogi bodoh-bodohannya seperti ini:

Guru TK: Anak-anak ada yang tahu gajah itu apa?

X: Kemarin aku ke kebun binatang liat gajah loh bu, ternyata namanya gajah karena belalai panjang.

Y: Lho gajah itu perutnya gendut…

Z: Bukan iiih… kamu semua salah… gajah itu karena punya buntut

So open up your mind, and close your eyes, take another look from the other sides…

Satu informasi yang sama, bisa diserap berbeda jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Si anak X melihat dari depan, Y dari samping, sementara Z dari belakang. Dalam kasus ini tidak ada yang benar dan juga tidak ada yang salah. Masalahnya pada informasi tidak sempurna, tidak signifikan dan tidak bermakna. Harus dilihat secara komprehensif. Tidak semua pasien memiliki tingkat pendidikan yang sama, dan tidak semua dokter memiliki kemampuan verbal yang baik. Wajar? Wajar lah, karena kita semua manusia. Tapi selalu ada banyak cara untuk berkomunikasi. Yang susah kalau yang jadi masalah adalah tidak adanya waktu/kesempatan untuk berkomunikasi. Misal pada suatu kondisi emergency tapi tidak ada orang dekat pasien untuk dilakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). Atau kalau dokternya ga ada waktu.

Dalam keadaan gawat tersebut untuk tindakan yang sifatnya mengancam nyawa atau mengancam kerusakan berat pada organ tubuh tertentu, dokter diwajibkan menjadi decision maker. Tentunya dalam kaidah yang sudah ditentukan sesuai prosedur. Bagaimana jika dalam keadaan gawat tersebut ada keterbatasan sarana prasarana sehingga tindakan pertolongannya sedikit keluar dari prosedur? <– ini dibahas nanti.

slide-4-638Sebenarnya sudah ada lembaga khusus macam Mahkamah Kode Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK) dan sejenisnya yang khusus menangani masalah yang terjadi antara dokter-pasien. Lembaga tersebut terdiri dari dokter dan  sarjana hukum. Untuk isi dari MKDKI, keanggotaan dan susunan periode hingga tahun 2016 dapat dilihat di sini. Jika terjadi poin-poin tertentu seperti kelalaian dll maka masuk ke kategori malapraktik, sementara jika lebih ke etika atau tidak ada poin yang mengarah pada kategori malpraktek, disebut sengketa medis. (dan selalu ada pihak ketiga di luar masalah yang punya kepentingan). Bukan mendiskreditkan tapi sepertinya sudah jadi rahasia umum bagaimana budaya hukum dan politik di Indonesia.

Masalah yang lebih serius ternyata karena peran serta media massa. Dengan mudahnya orang dapat mengakses informasi. Apalagi semenjak ada search engine macam google, yahoo, altavista dll. FYI, informasi yang didapat dari googling bisa jadi sifatnya emas, tapi banyak juga yang sifatnya sampah. Karena peran serta dari media massa ditambah perbuatan oknum, muncullah diskredit pada suatu profesi yang disebut dokter.

Saya pernah dapat pasien waktu zaman PTT yang ngotot tentang suatu masalah kesehatan. Sementara saya jelaskan, asyik googling di tablet. Saya jabanin sampai 25 menit🙂 Sampai pasien lain nunggu di luar dan perawat sudah gelisah. Ternyata masalahnya pasien ini sudah shopping dokter dan diskredit akan profesi dokter. Menghadapi yang beginian harus dengan seni. Akhirnya saya jelaskan sambil carikan informasi yang valid dari tabnya. Dan terbukalah jalan pikirannya. Itu satu pasien, sementara setiap hari bisa 40-50an pasien.

Saya sempat bertugas di daerah terpencil (PTT pusat) selama 1 tahun di mana boleh saya bilang kondisinya mengenaskan. Kategori tempat saya ditugaskan “T” (terpencil), tapi menurut pengakuan dinkes setempat seharusnya itu kategori “ST” (sangat terpencil), perbandingan dengan teman dokter di daerah lain memang harusnya masuk “ST”. Saking kurangnya dokter pada kabupaten pemekaran itu, saya sampai diperbantukan di RSUD setempat, padahal saya bertugas di puskesmas, dan akhirnya saya megang 2 tempat. Kemudian saya ditarik ke RSUD.

Jujur saya bukan orang yang idealis, walaupun begitu saya sempat complain kenapa saya ditempatkan di RSUD karena itu menyalahi aturan yang berlaku pada ketentuan dokter PTT pusat, di mana area kerjanya sebatas pelayanan primer di puskesmas. Dan saya dikandangpaksa untuk bertugas di situ. (dari sini sudah bisa kita lihat bagaimana bobroknya sistem kesehatan kita)

Gambaran saya di RSUD itu aman karena ada dokter spesialis dan banyak sejawat dokter umum. Nyatanya ternyata dokter umum di situ cuma ada 3 (termasuk saya) sementara satu dokter lainnya sedang pra jabatan PNS, jadilah berdua. Dokter spesialis cuma praktek poli pada hari tertentu kemudian balik ke kota. Perawat dan bidan hampir 80% honorer dan cuma berharap gaji dari jamkesmas yang biasa cair 3 bulan sekali itu juga biasanya dapat sekitar 250rb-300rb saja +_+ miris jadinya saya.

Jadi saya dan dokter umum satunya bergiliran jaga UGD+Bangsal+Kebidanan+Poliklinik. Gempor setengah mampus. Jadi kalau jaga UGD ga tanggung-tanggung  ya 7×24 jam. Yang kebagian UGD sekaligus mengcover bangsal dan kebidanan. Biar minggu depannya bisa agak bernafas di poli selama 5 hari. 2 harinya turun ke kota untuk beli sembako.

Telusuri saja tempat saya tugas sebelumnya, ga ada perubahan yang bermakna, dan minim dokter. Saat saya selesai PTT ada 8 Puskesmas ga ada dokternya.

Buka-bukaan saja, Gaji PTT saya 4,8 juta/bulan tapi selama 3 bulan di awal dirapel pada bulan ketiga. Lihat angka segitu sebagian orang pasti bilang besar. Bagi saya alhamdulillah cukup. FYI, makanan susah. Sekali makan 1 porsinya 25-30 ribu rupiah. Kasarannya 70rb/hari lah. Itu baru makan. Silakan berhitung. Menu makanan juga itu-itu aja. Pemukiman penduduk terdekat sekitar 4KM. Pasar terdekat 11KM, alih-alih niat masak, pasar cuma buka 2 hari dalam seminggu. (Mandi aja kadang ga sempat, gimana bisa ke pasar. Saya kalau mandi selalu bawa HP +_+ baru siram satu dua gayung ada pasien gawat di UGD). Kalau pagi kadang-kadang kalau ga ada makanan atau ga sempat makan saya sarapannya 2butir tablet antasida doen. Kalau malam gara-gara pasien selalu gawat biasa baru bisa makan jam 11 malam, dan yang tersisa cuma bakso kanji. +_+

dan sekarang dokter PTT dihapuskan dan diganti dengan sistem dokter internship di mana mereka hanya digaji 1,2juta rupiah/bulan.

Tapi yang ga wajar jaga 7×24 jam kalau di UGD. PNS aja ga segitu kerjanya. Jadi 1 hari kerja saya setara 3 hari kerja dokter PNS. Bisa gila. Bahkan saya hampir lupa dengan benda berbentuk kotak yang namanya TV🙂 Ga dapat kendaraan dinas dan ga ada akses transportasi umum. Ditambah jajaran pemerintahan setempat yang korup.

Belum lagi budaya setempat yang keras. Bayangin aja bisa masuk ke UGD orang bawa parang +_+. Dokter yang prajab sebelumnya pas balik pernah diancam mau dibunuh. Kaca UGD sempat dipecahin. Perawat saya yang laki ada yang ditendang dari pintu UGD sampai terlempar sekitar 3 meter. Jangan berkhayal ada security. satu dua kali ada sih satu orang satpol pp stand by tapi di waktu-waktu tertentu saja.

Satu-satunya pekerjaan yang kerjanya 24 jam, rawan bahaya dan ga bisa menolak customer itu ya di bidang kesehatan. Kalau toko atau warung jam 10 malam paling uda tutup. Pengemis aja malam tidur.

Secara medis, manusia tidak dibenarkan dan tidak dianjurkan untuk mengambil keputusan dalam keadaan belum penuh sadar. Sementara kami sendiri dituntut untuk bisa segera mengambil keputusan dan juga tindakan medis dalam keadaan tersebut.

Hampir sebagian yang diliput media massa itu hanya berita di kota besar. Di daerah pelosok jarang. Tempo hari pernah ada sih acara TV yang judulnya “Pengabdian”. Perlu dicatat, tidak semua dokter PTT pusat di pelosok mengenaskan, ada juga yang daerahnya asik dan pemerintahan setempat mendukung. Tapi lebih banyak yang mengenaskan, kena malaria, tertular HIV, hilang saat tugas, meninggal, tapi berita semacam ini ga pernah diliput🙂

Saya sendiri karena kelelahan sampai kena cacar yang parah, mengopnamekan diri sendiri, terapi diri sendiri dan memberikan instruksi terapi ke teman-teman perawat. Alih-alih bisa bed rest, saya masih dikonsulin pasien by phone.

Pernah ngebayangin andai ga ada penurun panas (alias paracetamol yang generik sekalipun yang harganya sebutir ga sampai 200 rupiah) selama 1 minggu? <– Ini RSUD lho, bukan puskesmas. Pernah ngerujuk pasien pakai truk pasir/pickup? Pernah nanganin pasien perdarahan masif dan kehabisan handschoen? Pernah nanganin pasien status asmatikus tanpa ephineprine? Pernah menjahit (hecting) dalam keaadaan mati lampu? Pernah memodif selang infus jadi NGT? Itu semua pernah saya alami dan lakukan karena keterbatasan.🙂

Hal-hal seperti yang saya sebutkan di atas, kalau status saya sekarang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kota, pasti saya sudah kena tuntutan malapraktik🙂 Tapi selalu sebelum keputusan diambil saya berikan KIE dan informed consent terlebih dahulu. Baru setelah disetujui saya lakukan tindakan, sedikit menyimpang dari prosedur tapi bukan dikerjakan sembarangan melainkan tetap dengan keilmuan dan banyak pertimbangan.

I just don’t wanna let my patients suffering or die.

Pernah kerja dibayar pakai buah, sayur mayur, ayam dan hasil laut? Saya pernah. Karena penduduk sekitar orang susah. Saya malah bersyukur. Dan itu sebanding. Lebih baik dibayar dengan itu semua dengan ikhlas dan kerjaan dihargai. Tanpa dibayar pun, dengan indikasi sosial, yang benar-benar profesinya dokter pasti akan membantu.

Where the art of medicine is loved, there is also love for humanity ~ Hippocrates

Seperti kutipan di bawah, kami tidak menuntut banyak, hanya sesuai dengan kapasitas. Kami tidak ingin didewakan apalagi dituhankan, hanya hargailah kami sedikit. Kepada media massa & masyarakat, tolong lah sebelum menyebarkan informasi atau menjudge dilihat secara komprehensif dan representatif. Kepada yang berwenang membuat kebijakan tolonglah sebelum membuat kebijakan sesekali sakit dulu lalu ikuti prosedur dan alur kebijakan yang Anda sekalian buat. Kepada yang biasanya duduk, bengong dan tidur, sesekali jalan-jalan lah ke daerah perifer biar merasakan apa yang kami rasakan juga supaya otak lebih fresh🙂

Good doctors will have a very interesting and excellent future but not in terms of earning a lot of money. Doctors who want to become multi-millionaires rapidly should leave their medical studies and join the stock exchange or go into business.

8 comments on “Dukung Aksi STOP Kriminalisasi Dokter, Speak Your Faith!!!

  1. syaiful anam dr says:

    salam sejawat: good share,, jgn pernah menyerah..

  2. Salam TS. Hari ini serentak di beberapa tempat dilakukan aksi solidaritas stop kriminalisasi dokter di beberapa tempat. Sayang sekali siang ini tidak satupun sy lihat ada berita mengenai informasi tersebut di televisi🙂

    Bagi sejawat yang sedikitnya ingin berkontribusi, silakan bergabung di Dokter Indonesia Bersatu –> http://dib-online.org/

    It’s not the amount that really matters, it’s about how appreciating people’s hard work…

  3. Key La says:

    Saya bukan dokter, tapi saya curious banget ketika melihat avatar teman saya dengan poto ‘Stop Kriminalisasi Dokter’. Akhirnya saya pun mencari tahu dan blogwalking ke blog ini. Mencerahkan sekali.
    Nice posts! Well done!

  4. syafarinah says:

    hai fajar, remember me? baito girl,hehehe. gimn kbr istri? dah lahiran blm?

    baca tulisanmu jd inget masa2 ptt yg (tidak) ingin kuulang lagi. namun, byk pengalaman hidup yg sgt bharga dr ptt itu. profesi dokter skrg jd bhn pembicaraan, byk negatif, tp ya disyukuri ajah atas semua hal yg tjadi. pasti ada hikmaknya semua ini.

    kpn2 reuni yaaa sama luthfi, candra, dkk

    wassalam
    -rina-

    • @syafarinah: yo… long time no see. Kok bisa nyasar ke sini? #lol (jadi ingat dulu ada dokter yang penasaran dari puskesmas sampe ikut ngerujuk pasiennya ke RSUD naik ambulans reyot dan melewati jalan berbatu :-p hahaha) BTW, sampai sekarang baito masih ga ada dokternya, kamu dicari-cari warga tuh kapan main lagi ke sana???🙂

      Istri baik-baik aja. Insya Allah TP Januari tar.

      Justru karena banyak yg negative thinking malah jadi menarik kan? Just follow the mainstream is too boring. Ngomongin si candra jadi ingat waktu dia ngerujuk ibu hamil perdarahan dari desa pedalamannya itu, (padahal waktu itu lagi ga ada dokter obgyn), darahnya disertai gumpalan hitam, ciloko… ee ternyata ga lama pembukaan dan sungsang +_+. Mana sempat lagi rujuk ke kota. Akhirnya mimpin persalinan pake metode mouriceau. (di UGD pula) Alhamd bayi dan ibu selamat… Ternyata gumpalan hitam itu meconium si bayi… hahaha…

      Bisa diatur. Tar kalau anak-anak dah pada gede…

  5. syafarinah says:

    ya bisa lah,hehehe, ke baito ajah bisaaaaaa. semoga lancar ya jar persalinan istrimu. keep in touch!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s