Hidup Itu Seperti Diagram Venn

Homograph_homophone_venn_diagramBaru saja saya berkata kepada seorang teman, “ngapain sih repot-repot ngomentarin sesuatu yang ga penting? Your words won’t reach them“. Dengan santai teman saya menjawab, “even the smallest action will affect the whole universe“. Benar sih. Tapi ada satu klausa yang harus ditambahkan. Just in case you are in the same universe.

Hidup itu tak ubahnya seperti diagram venn. Akan ada banyak persimpangan/persinggungan (intersection), persatuan (union), perbedaan, kebebasan, ketergantungan, hingga pelengkap relatif maupun absolut. Hampir dapat dipastikan pola diagram venn itu ada bahkan dalam hal yang paling sederhana yakni kontroversi. Terdiri dari komponen pro, kontra dan netral di tengah-tengah interseksinya.

A = makhluk hidup B = bisa bergerak/berpindah tempat

A = makhluk hidup
B = bisa bergerak/berpindah tempat

Baiklah, sedikit sebelum lanjut, mungkin ada yang lupa atau belum tahu apa itu diagram venn. Sesuai namanya, diagram venn dirancang oleh John Venn pada tahun 1880, di mana fungsi dari diagram ini dapat dijadikan sebagai hubungan acuan probabilitas, logika, statistik, linguistik, hingga ilmu komputer. Ilustrasi bodoh-bodohannya seperti di sebelah. Tumbuhan adalah makhluk hidup, tapi tidak bisa bergerak –> masuk area A warna merah muda. Manusia dan hewan adalah makhluk hidup, bisa bergerak –> masuk area A∩B warna oranye. Kendaraan adalah benda mati, bisa bergerak –> masuk area B warna kuning. Sementara bangunan adalah benda mati, dan tidak bisa bergerak –> tidak masuk area mana pun, warna putih.

Dalam musyawarah, orang yang sifatnya selalu netral, berada pada bagian interseksi. Sementara orang yang selalu abstain, berada di luar lingkaran tersebut. Dan jika mufakat tercapai maka areanya berada dalam keseluruhan lingkaran. Dari gambaran di atas, akan selalu terjadi perbedaan pandangan atau pola pikir. Dan ini manusiawi. Akan ada orang yang setuju dengan pendapat kita, menentang, bersikap netral atau acuh tak acuh. Dan ini wajar. Apalagi dalam hidup ini ada berbagai macam aspek yang kalau dijabarkan dalam diagram venn bisa menjadi rangkaian bangun ruang venn.

Membahas ekonomi dengan tukang ojek bisa jadi nyambung, tapi kalau membahas ilmu komputer belum tentu. Membahas rumus matematika dengan arsitektur bisa jadi nyambung, tapi kalau ngomongin soal sejarah belum tentu. Kebanyakan manusia menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan berdebat alot dengan orang di luar semesta pembicaraannya.

Orang yang fanatik terhadap suatu hal, akan selamanya fanatik. Sementara orang yang sifatnya hipokrit, selamanya akan jadi munafik. Kalau berdasarkan ilmu matematika sih seperti itu. Tapi lebih baik menjadi fanatik, hipokrit atau netral. Karena saat kita abstain atau tidak memiliki suatu warna tertentu di dalam lingkaran venn artinya kita bukan termasuk himpunan semesta. Artinya keberadaan kita bukan suatu yang penting, kalau ga penting ngapain kita ada?

But human being is not that simple mathematics. People change, don’t they?

Mungkin sebagian orang menghindari interseksi, tidak mau ambil pusing dan akhirnya memilih abstain. Prinsipnya biarkan hidup itu mengalir. Saya jadi ingat kata seorang teman “Hidup itu mengalir seperti air. Memang. Tapi aliran air itu bisa saja masuk ke limbah sepiteng (septic tank) atau got. Jadi kamu mau biarkan hidupmu mengalir begitu saja masuk ke dalam air buangan limbah kotoran???”

Source:

http://en.wikipedia.org/wiki/Venn_diagram

http://en.wikipedia.org/wiki/Euler_diagram

http://en.wikipedia.org/wiki/Logical_connectives

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s