Bisakah Dokter Dipenjarakan? Why Not? Tentu Bisa!!!

*link video fullnya sudah saya ganti karena yang sebelumnya tidak objektif, komen dari perwakilan hanura di-cut. Lucunya negeri ini. Dan bagian yang hilang dari video sebelumnya ada di bawah postingan.

Tuh kan, seperti tulisan saya Hidup Itu Seperti Diagram Venn bisa kita lihat langsung aplikasinya dalam debat di video di atas. Akan ada bermacam-macam paradigma. Dan menariknya justru di situ. Bahkan dari dunia hukum pun ada orang-orang yang tetap fair, objektif dan mengerti letak substansial permasalahannya di mana. Sementara di dunia medis pun ada yang berbeda pendapat, bahkan ada yang ragu dengan kebijakan di lingkup area kerjanya.

Berbeda itu boleh. Wajar dan manusiawi. Hanya saja tetap harus di dalam koridor yang sesuai pada tempatnya. Dan dari perbedaan itu seyogyanya kita tidak mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Lantas kalau sudah ketemu yang salah, mau diapakan? Yang lebih bijak adalah mencari di mana letak kelemahan sistem dan memperbaikinya. Tentunya ini juga bukan merupakan peran dari individu di dunia medis dan hukum saja. Melainkan di semua aspek. Mulai dari masyarakat awam hingga para stakeholder.

Sedangkan berbeda yang masih dalam koridor itu contohnya seperti gelas kaca yang terisi air setengah bagian. Di sini bisa kita temukan 4 pendapat yang berbeda:

  1. Gelas setengah kosong
  2. Gelas setengah penuh
  3. Gelas setengah kosong setengah penuh
  4. Gelas setengah penuh setengah kosong

Keempat jawaban di atas berbeda tapi masih dalam koridor dengan letak substansial permasalahan yang sama. Lucunya dalam kasus yang diperdebatkan di video di atas. Ada yang keluar dari koridor. Analoginya, alih-alih membahas gelas yang terisi 1/2 bagian tersebut yang diperdebatkan malah seperti “itu kenapa sih kok isinya air putih? kenapa bukan sirup cocopandan dengan es batu?” atau “kok gelasnya kaca sih? yang plastik donk biar ga pecah” atau yang lebih pelik lagi “pelit amat sih, diisi cuma setengah…”

Pakar hukum pidana, Prof. Andi Hamzah di akhir debat menyatakan ada missing link yang rancu. Bukti pengadilan menyatakan bahwa meninggal karena emboli. Bukan meninggal karena kelalaian. Jadi harus dibuktikan lagi bahwa emboli terjadi karena kelalaian. Dalam hal ini kelalaian yang disebut-sebut tidak memberi informed consent (yang dalam peraturan perundangan tidak diperlukan dalam keadaan darurat) dapat menyebabkan terjadi emboli, lalu kematian.

To err is human. Kalau kata pepatah, belajar lah dari kesalahan. Memang. Itu benar. Selama kesalahan itu bukan kesalahan yang fatal atau blunder. We do make mistake sometimes, but when doctor make too many mistakes, people die.

I take risks. Sometimes patients die. But not taking risks causing more patients to die. So I guess my biggest problem is that I have been cursed with the ability to the math. ~ House MD  fict serial quote.

Yah sudahlah, kita kembalikan saja ke opini dan paradigma masing-masing. Dunia negara RI memang sudah kacau balau. Carut marut. “Politik macam ramalan cuaca saja” Mungkin akan segera datang masanya di mana dokter umum keliling naik sepeda sambil menenteng timbangan dan tensi sambil teriak “mari pak… bu… timbang-timbang… nensi dulu…” ‘Oh… sudah dok kemarin saya sudah ke klinik tongseng…’😛

Source:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s