Menggugat DLP, Speak Your Faith!!! part 2.

Salah satu jenis profesi yang paling gampang ditunggangi kepentingan politik dan kepentingan lainnya adalah profesi dokter. Jika tiba masa kampanye pilkada, maka calon pemimpin akan berkoar, “Jika saya terpilih, pengobatan gratis” (bukannya gratis itu sudah program dari pemerintah???)

dlp-1

Source: hmku.fkunud.com

Lain lagi dengan cerita Jaminan Kesehatan Nasional yang tulang punggungnya adalah BPJS. Pernahkah Anda mendengar atau melihat himbauan berupa komunikasi, informasi dan edukasi dari BPJS? (Ya, mungkin pernah. Tapi sangat jarang sekali.) Pernahkah masyarakat dijelaskan tentang hak dan kewajiban sebagai peserta BPJS? (9 dari 10 orang bisa jadi mengatakan tidak). Pernahkah masyarakat dijelaskan plafon asuransi BPJS yang didapat per orang per bulan? (ga pernah kan? hehehe, kalau masyarakat semua tahu bisa nangis darah sekaligus uget-ugetan macam cacing kepanasan) Yang ada hanya dogma bahwa pengobatan gratis jika menggunakan kartu BPJS, atau menggunakan KIS. Yang akhirnya mengakibatkan salah kaprah pada masyarakat dan angka kunjungan pasien yang sakit menjadi meningkat walaupun sekedar batuk pilek hari pertama di semua Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

FKTP terdiri dari Puskesmas, Klinik dan Praktik Dokter Perorangan. Berbeda dengan Klinik maupun Praktik Dokter Perorangan, Puskesmas sebenarnya lebih diutamakan sebagai fasilitas kesehatan untuk Promotif dan Preventif, ketimbang sebagai Kuratif. Namun yang terjadi semenjak era BPJS, porsinya menjadi terbalik. Pusat Kesehatan Masyarakat berubah menjadi Pusat Kesakitan Masyarakat. Angka kunjungan yang meningkat drastis disertai dengan kurangnya sarana dan prasarana menyebabkan pasien mendapatkan rujukan ke FasKes Lanjutan. Hingga akhirnya BPJS mengeluarkan 144 macam diagnosis kasus yang harus bisa diselesaikan di FKTP. Tetap saja, dari 144 kasus itu banyak juga yang dirujuk.

Singkat cerita, kesimpulan yang paling general adalah semua dokter umum Indonesia di fasilitas kesehatan tingkat pertama tidak kompeten.

Sehingga muncullah wacana yang segera akan direalisasikan. Dokter Layanan Primer. Sebuah program studi kedokteran mutakhir, yang lulusannya adalah dokter umum tapi disetarakan dengan dokter spesialis. Spesialis di bidang generalis. Oh la la, qu’est-ce que c’est que ça?😛

Terus kenapa ada kontroversi dengan program pendidikan ini dari kalangan IDI sendiri? Salahkah program studinya? Yang terindikasi bermasalah adalah kepentingan oknum yang ikut ambil bagian dari pendirian prodi DLP ini. Sementara secara kompetensi tidak ada yang berbeda antara dokter layanan primer dengan dokter umum yang sudah ada saat ini.

Masalah krusial lainnya berada pada aspek legalitas UU Pendidikan Kedokteran (yang saya saja malas bacanya walaupun sudah dokter) Tapi yang menarik di balik penerbitan UU No 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, ada kepentingan yang terkesan memaksa terutama untuk menekan angka-angka tertentu, yang akar utamanya sebenarnya adalah disparitas. Kesenjangan. Silakan dicerna UU tersebut di sini.

Program Pendidikan Dokter Layanan Primer akan menambah jangka waktu studi seorang mahasiswa yang ingin jadi dokter. Di tahun 2016 ini, untuk menjadi dokter harus menempuh pendidikan akademis sarjana kedokteran 4 tahun, pendidikan profesi dokter muda / koasistensi 2 tahun, menjalani uji kompetensi nasional 3-6 bulan, dan terakhir harus menjalani masa internship selama 1 tahun. Hantam kasar saja bisa sekitar 7,5 tahun untuk menjadi seorang dokter (itu kalau lancar sih…😛 ) Nah bayangkan jika ditambah DLP 3 tahun? 10,5 tahun… Masa muda yang harusnya bisa lebih bermanfaat buat negara dihabiskan hanya berkutat dengan textbook.

Program Pendidikan Dokter Layanan Primer ini tidak akan mampu memperbaiki pelayanan di FKTP meskipun kemampuan FKTP tersebut sudah ditingkatkan. Kenapa demikian? Selama FKTP masih menggunakan perhitungan sistem kapitasi. Walaupun sudah menjadi dokter DLP kemungkinan untuk merujuk tetap tinggi, karena tanggungan kapitasi per pasien tidak sesuai dengan tatalaksana di FKTP.

Sanggupkah para DLP nantinya membiayai atau nomboki kekurangan dari sekedar ABHP (Alat & Bahan Habis Pakai) di FKTP? (Hampir semua sepakat menjawab “ga mampu”) Belum lagi risiko yang didapatkan bisa berupa sengketa medis dan yang lebih ekstrim lagi malapraktik. Pada FKTP yang lengkap ada dokter umum dan dokter gigi maka yang didapatkan per pasien per kepala per bulan adalah IDR 10ribu. (10 ribu lho, itu sudah administrasi, konsultasi dokter, periksa dokter / tindakan medis, periksa lab jika perlu, dan obat-obatan) Jaman sekarang 10 ribu itu di banyak daerah di luar Jawa semangkuk bakso aja ga dapat.

Singkat cerita, dengan duit 10 ribu untuk melakukan tindakan bedah minor paling dapat jarum suntik kosongan dan sarung tangan non steril. Okelah kalau subsidi dengan peserta BPJS yang ga sakit, tapi trennya sekarang malah banyakan yang sakit. Malah ada yang sakitnya berulang hingga 4-5 kali dalam sebulan. Ada juga yang sakit berjamaah sekeluarga, pas dianamnesis jawabannya simpel “Mumpung pakai BPJS dok…” (hayoo… BPJS mana sosialisasinya?)

Dengan adanya program DLP ini, telah terjadi konflik antara IDI, Kemenkes dan Kemenristekdikti (dan BPJS?😛 ). Sebagai informasi, Program DLP ini akan memboroskan anggaran negara yang begitu besar karena satu orang DLP dibutuhkan biaya sebesar IDR 300juta. Untuk menghasilkan 1000 orang DLP saja hitungannya sudah menjadi IDR 300 Milyar. Angka yang cukup fantastis.

IMHO, Sebenarnya yang harus dibenahi adalah sistem pendidikan kedokteran yang sudah berjalan dan tentunya sistem jaminan kesehatan nasionalnya bukan menambah progam studi baru.

screenshot_20161024-172705

Pernah suatu ketika muncul sosialisasi BPJS di channel YouTube. Ironis sekali di awal video dijabarkan tahun 2010 ada 237 Juta Jiwa penduduk Indonesia namun yang menonton video tersebut baru 1.154 orang sebelum saya. Hehe… Dan dari sekian itu yang nge-like(bc: menyukai) masih 11. Subscriber juga masih 416, kalau ada yang picik bisa jadi bilang, “ah itu semua petugasnya” Nah lho… Salahnya di mana? Kesalahan bukan terletak pada videonya, namun lebih pada sosialisasinya. Kenapa ga sekalian ditayangkan di televisi?🙂

 

 

Nah, pada video berikut mulai menarik pada menit 3:35 dst…

Sayang yang seperti ini tidak tersosialisasikan dengan baik, sehingga paradigmanya jadi menyimpang. BPJS = gratis. Angka rujukan meningkat. Dokter tidak kompeten. DLP solusinya. (sudah macam bahasa pedagang di pasar aja ini…)

Jadi perlukah ada DLP menurut Anda? Silakan kembalikan pada hati nurani masing-masing.
Sebagai penutup, ini hanya sekedar ketukan tombol pada keyboard. Jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan tulisan ini, mohon maaf sebesar-besarnya. Mari sama-sama berbenah diri untuk membangun sistem kesehatan di Indonesia menjadi lebih baik.

So open up your mind… And close your eyes… Take another look… From the other sides…

4 comments on “Menggugat DLP, Speak Your Faith!!! part 2.

  1. Bagus sekali dok tulisannya, hehehe
    Yah bukan hanya dokter yg galau tidak perlu DLP atau macam macam,
    Puskesmas selama saya mengabdi 9 thn sy merasakan puskesmas tidak sesuai dg tupoksinya, puskesmas tidak mengoptimalkan tenaga sesuai dg profesinya puskesmas terjebak dg program program yg nota Bene hanya selesai di atas meja
    Hehehe mari kita bekerja sesuai dg profesi yg ada dokter perawat gizi kesling bidan dan penunjang lainya kerjakan sesuai profesi masing masing dan sinkronkan kolabarosi sy yakin tanpa DLP kita mampu.
    Yah kepentingan pasti ada baik Individu atau kelompok tapi klo dg tujuan sama yaitu manyarakat yg sehat baik jasmani maupun rohani sy yakin kepentingan itu akan tinggal kepentingan
    Hahahaha salam sukses dom

  2. Viral says:

    Ralat bro bukan 144 diagnosis, tp ada 155 diagnosis yang harus selesai ditangani di FKTP. Dan duit per kapitasi 😅IDR 10k itu msi trmasuk besar, angka realnya kn gk segitu 😂.
    Yah semoga Dokter Indonesia tetep waras dalam memberikan pelayanan. Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s